Jembatan

Cerpen: Gatot Zakaria Manta

SEMINGGU setelah kepergiannya, Syarif mengirim sebuah pesan untunkku. Singkat dan bernada menantang.

“Carilah jembatan yang lebih panjang, lebih tinggi. Aku sudah menemukannya disini.”

Rasanya aku sudah lupa kapan terakhir aku mengunjungi sebuah jembatan dengan Syarif. Memarkirkan kendaraan di salah satu ujungnya, lantas berjalan beriringan. Kami selalu singgah lebih lama di tengah. Duduk-duduk di pagar besi yang hampir selalu ada seolah menjadi aksesoris wajib bagi pembangunan sebuah jembatan, memandang kendaraan yang lewat, merokok bersama, dan sesekali melongok ke bawah, memandang ke sungai, atau sesuatu yang lain yang ada di bawah jembatan. Sering pula kami membawa pancing atau sekedar talinya saja, menghabiskan waktu dengan menunggu ikan yang tidak beruntung akan tergoda dengan umpan cacing murahan kami. Namun hal itu juga tak selau berjalan lancar, kami, Syarif dan aku, lebih sering menemui dasar jembatan sebagai tempat sampah, bukan tempat air.

Tapi yang paling menyenangkan dari semua itu adalah menemukan jembatan yang membentang dari utara ke selatan, atau sebaliknya, karena kami tidak tahu pasti dari mana jembatan itu bermula. Pada jembatan seperti itu, kamikami akan lupa memandang kendaraan, merokok bersama, atau bahkan memancinng. Kami hanya akan memusatkan pandangan pada senja, bukan untuk lewat kendaraan ataupun memancing.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Syarif-lah yang begitu menyukai jembatan. Sebagai karibnya, aku hanya penasaran dan ingin merasakan kebahagiaannya. Bagaimana sebuah jalan yang merentang di atas sungai dan hanya berfungsi sebagai penghubung dua sisi bagiku, bisa begitu menarik baginya? Syarif bukan pecinta arsitektur dan jelas dari cerita-ceritanya kepadaku tentang jembatan, dia tak pernah peduli dengan bentuk jembatan yang dikunjunginya. Dia juga bukan sejarawan yang pasti akan tertarik dengan masa lalu dan latar belakang setiap jembatan. Dia hanya akan menyeberangi jembatan itu, setelah sebelumnya berdiam sebentar di tengah.

“Aku rasa aku orang yang melankolis jika berada di jembatan, Ta. Aku pikir aku bisa membntumu menulis.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja. Aku yakin semua penyair menulis semua sajak melankolisnya di atas jembatan .”

Syarif berhasil membujukku untuk ikut dengannya mengunjungi jembatan. Sebagai awal, aku kira dia akan membawaku ke jembatan favoritnya, atau jembatan yang punya bentuk terbaik. Alih-alih melakukuan semua itu, dia malah mengajakku ke daerah persawahan di pinggir kota. Mengajakku berkeliling pematang sawah yang begitu kecil seolah setiap harinya pematang-pematang itu selalu digerus dari kedua sisinya oleh para petani yang begitu terobsesi meluaskan sawahnya, kemudian menyeberangi jembatan yang menghubungkan persawahan itu dengan sebuah desa.

Itulah jembatan pertama yang aku kunjungi bersama Syarif. Sebuah jembatan bambu dengan panjang tak lebih dari lima meter yang membentang dengan kayu-kayu yang hampir rapuh. beberapa paku mencuat berbahaya, dan sebagai tambahan ketidaklayakann jembatan itu adalah kemiringannya yang aku perkirakan hampir tiga puluh derajat.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Dalam perkembangannya, Syarif menemukan seorang lagi pecinta jembatan. Dia membawanya saat kami mengunjungi sebuah jembatan di tengah kota. Seorang gadis, postur tubuhnya pendek namun dia punya rambut yang panjang. Dia mengenalkan dirinya bernama Mi. Aku kira mereka, Mi dan Syarif, punya hubungan khusus.

Sore itu kami melakukan suatu hal yang lain. Jembatan itu membentang dari timur ke barat. SEhingga kami tak bisa menikmati senja dengan sempurna. Sesekali kami melihat ke barat, namun lama-kelamaan pandangan kami terhalang oleh bangunan yang juga menjulang. Kami menggantinya dengan dengan hal yang berbeda. Gadis itu, Mi, ingin meneriakkan keinginannya di tepi jembatan itu. Aku cuma mengangguk, meski tahu kalau teriakkan kami mungkin teredam suara kendaraan yang lalu lalang.

“Aku ingin pergi ke Golden Gate!”

“Aku ingin menikah dengan seorang PNS dan punya tiga anak!”

Aku hampir tertawa mendengar keinginan Mi. Namun aku hentikan ketika dia memberikan pandangan menyipit yang tak wajar. Aku menggantinya dengan kerutan kening, sebelum akhirnya juga tampil meneriakkan keinginanku.

“Aku ingin menulis cerpen!”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Benarkah kau seorang penulis, Ta?”

Agaknya Syarif tahu masalahku ini. Mungkin karena itulah, dia menyuruh Mi untuk tetap ikut denganku menjelajahi sebuah jembatan. Awalnya aku ragu, mengingat aku akhirnya tahu bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih. Namun karena Mi sendiri memaksa ikut, aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Apa yang kau tulis, Ta?” gadis itu, Mi, kembali bertanya padaku sebelum pertanyaan yang pertama sempat aku jawab. Aku menghentikan ritualku dan beralih memandangnya.

“Puisi, sajak. Cuma itu.”

“Karena itu kau ingin menulis cerpen. Kau ingin menjadi penulis yang kompleks?”

“Bukan begitu. Aku hanya ingin mencari katarsis yang lain. Itu saja. Bentuk tulisan yang lain yang dapat membuatku puas.”

“Kau terlalu idealis, Ta. Tak ada penulis seperti itu sekarang. Semua penulis menulis untuk uang.”

Aku mengalihkan wajah darinya. Dia sangat bertolak belakang dengan Syarif. Syarif lebih perasa dan mampu menjaga perasaan orang lain. Mi berbeda.

“Kau mungkin benar. Mungkin juga salah.”

“Kau tahu? Awalnya kukira kau PNS.”

“Heh. Syarif yang PNS. Aku tak pernah mau menjadi pegawai negeri untuk alasan apa pun.”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Saat itu, entah kenapa, aku dan Mi tak sungkan mengumbar kedekatan. Kami selalu berdiri berdampingan dan tak pernah berjauhan untuk alasan apa pun. SEsekali aku melirik Syarif, dia sama sekali terlihat tenang. Tak ada raut kekesalan atau cemburu yang tampak dari wajahnya. Dia juga menjaga jarak dari kami. “Aku akan pergi, Ta,” katanya tiba-tiba di telingaku. Sementara Mi yang berada di sisi tubuhku yang lain sepertinya tak mendengarkannya.

“Kita baru sampai. Lebih baik kita pulang habis Maghrib atau Isya’,” aku bicara tampa memalingkan wajah.

“Bukan itu. Aku akan pergi dari Lamongan. Mutasi.”

Aku menghentikan tanganku yang beberapa saat tadi hampir menggenggam tangan Mi. Aku menatap wajah Syarif. Nyaris aku tak mendapat wajah melucu dari raut mukanya yang memang kerap melakukannya.

“Aku akan pergi ke Palembang, Ta. Sebulan lagi.”

“Bagaimana bisa? Palembang terlalu jauh. Kawan.

“Tidak apa-apa, Ta. Aku tak punya apapun yang yang akan mengikutiku untuk tetap tinggal di Lamongan.”

“Juga persahabatan kita?”

“Bahkan itu, Ta.” Dia menatapku tajam, kemudian tersenyum. “Ada baiknya aku pergi ke Palembang. Paling tidak aku bisa mengunjungi Jembatan Ampera.”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Aku kembali membaca pesan dari Syarif yang baru saja aku terima. Aku bayangkan sekarang dia pasti sedang berada di Jembatan Ampera. Entah apa dia bisa melihat senja seperti yang aku lihat sekarang di Jembatan Suramadu. Aku tak tahu mana yang lebih panjang dari kedua jembatan itu. Namun aku merasa Suramadu terlalu panjang untukk dilalui seorang diri, sekali lagi aku menggenggam tangan Mi. Dia tersenyum manis.

Dengan tangan yang lain, aku membalas pesan Syarif. Aku sudah menemukannya, Rif.” (*)

Sumatera Ekspres, Minggu, 2 Oktober 2011

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

2 Responses to Jembatan

  1. Aldio says:

    ijin nyimak+baca2 di blog ini y??
    ditunggu kunjungan dan koment baliknya :)
    makasih …

  2. yo’a.. terima kasih kunjungan saudaraku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.