Lilin Buat Pacar Gelap

Cerpen: Dadang Ari Murtono

AKU mau segelas kopi.”

“Dan sebatang lilin?” potong si pelayan yang juga pemilik kafe kecil itu. Sudah hafal benar ia rupanya. Tentu saja. Perempuan itu bukan sekali ini datang ke kafe ini. Sudah sering. Dan setiap kali datang, ia selalu memesan segelas kopi hitam dan meminta sebatang lilin. Tak perduli lampu kafe itu sudah cukup terang. Lalu perempuan itu akan duduk di meja pojok dekat jendela. Menyalakan lilin. Dan diam saja berjam-jam sampai lilin habis terbakar. Dan kopi habis terminum.

Perempuan itu tersenyum. Senyum yang murung. Ia mengangguk. Lalu segera pergi ke meja favoritnya. Dan si pemilik mendengus sebal. “Bagaimana usahaku bisa berkembang bila pelanggan-pelanggan kafe ini seperti dia semua? Duduk berjam-jam dan hanya memesan segelas kopi hitam. Minta lilin pula,” sungutnya.

Tapi, sesungut-sungutnya si pemilik kafe, tetap saja ia turuti permintaan perempuan itu. Ia selalu ingat pesan mendiang ibunya ketika ia hendak membuka kafe ini. “Pelanggan adalah raja. Turutilah apa-apa yang mereka minta. Senang-senangkanlah mereka. Maka mereka akan datang lagi, datang lagi. Dan usahamu akan berkembang.” Kalau saja ibu masih hidup, ia ingin sekali bertanya, “Apakah pelanggan dengan tipe seperti perempuan itu juga termasuk pelanggan yang mesti dituruti?” Berapa sih keuntungan dari segelas kopi? Dan berapa sih keuntungan itu bila ditambah dengan biaya menyediakan sebatang lilin? Tak ada. Tak ada.”

Ya, sebatang lilin yang senantiasa mengingatkannya kepada seorang lelaki. Lelaki yang kepadanya dulu pernah bilang. “Aku mencintaimu. Lebih dari apa pun.”

“Berkasih-kasihlah dengan dirimu sendiri!” teriaknya menahan mengkal setiap kali lelaki itu memintanya berubah. “Kau tak pernah mencintaiku. Kau hanya mencintai dirimu sendiri sendiri!” tambahnya.

“Tapi aku cemburu,” jawab si lelaki. Lirih. Nyaris menjelma isak.Ah, lelaki itu cengeng dengan banyak tuntutan.

Lalu lelaki itu diam. Setiap kali mereka bertengkar dengan perkara yang sama, dan pertengkaran itu telah begitu parah sampai ia harus berkata seperti itu, lelaki itu diam. Namun tak lama. Kemudian si lelaki menangis. Bersimpuh di depannya. “Aku terlalu mencintaimu untuk bisa meninggalkanmu,” isak si lelaki.

Dan ia tak pernah bisa melihat lelaki yang begitu dicintainya itu menangis. Maka ia pun memeluknya. Mematikan lampu kamar hotel. Menyalakan lilin. Dan berkata, “Lihat lilin itu. Kau akan menjai tenang.”

“Ah, kau tengah berfilsafat rupanya. Sayang sekali itu sudah ketinggalann jaman. Carilah perumpamaan yang lain. Sudah banyak berkata seperti itu.”

“Tapi memang begitulah kenyataannya. Cinta kita senantiasa seperti lilin itu. Mari kita relakan sedikit demi sedikit cinta kita terbakar. Habis. Demi membahagiakan orang lain. Kau tahu anak-anakku.”

“Tapi aku tidak mau cinta kita habis.”

“Aku juga tidak mau. Tapi begitulah yang mesti terjadi. Entah kapan. Kitaakan berpisah. Ini hubungan yang keliru. Dan kit berdua tahu itu. Sungguh, sudah menjadi takdir, setiap perselingkuhan mesti berakhir.”

“Itu tidak adil untukku.”

“Tapi itu adalah hal paling adil untuk anak-anakku.”

“Ternyata kau tidak mencintaiku.”

“Kau yang tidak mencintaiku.”

Si lelaki terisak. Menangis. Dan seperti biasa, ia mematikan lampiu kamar hotel. Ia nyalakan lilin. Dan tangis si lelaki tak terdengar lagi. Berganti desah dan erang. “Yang bisa kita lakukan sekarang adalah membuat sebanyak mungkin kenangan. Lalu kelak bisa tersenyum-senyum sendiri mengingatnya.”

Tapi kini, ia tidak senyum-senyum mengingat itu semua. Ia sedih. Ia ingin kembali ke lelaki itu. Bertemu. Bertengkar. Mematikan lampu kamar hotel. Menyalakan lilin. Lalu bercinta. Tapi tidak. Ia hanya bisa minum segelas kopi di sebuah kafe keci berjam-jam ditmani sebatang lilin. Dan berharap, ia bakal merasa tenang dengan melihat nyala lilin itu. Ia masih teramat mencintai lelaki itu.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Maaf. Kali ini tidak ada lilin untuk Anda, Nyonya,” kata si pelayan kafe yang juga pemilik kafe ini.

“Bagaiman bisa?”

“Selama beberapa hari Anda tidak ke sini, seorang lelaki terus-terusan datang. Dan seperti Anda, memesan segelas kopi dan meminta lilin. Lelaki itu yang menghabiskan persediaan lilin saya. Dan saya mulai berpikir, saya akan rugi bila terus-terusan kedatangan pelanggan seperti Anda dan lelaki itu. Jika saya terus memberika sebatang lilin tiap kali memesan kopi, maka semua pelanggan saya akan meminta lilin. Dan itu tidak baik bagi bisnis saya. Maka mulai sekarang, saya tidak akan menyediakan sebatang lilin lagi.”

“Lelaki?”

“Ya.”

“Apakah lelaki itu berkata sesuatu?”

“Ya. Dia bilang dia kekasih gelap seorang perempuan. Tapi kekasihnya itu telah meninggalkannya. Dan saya tidak tahu maksudnya ketika dia bilang dia ingin sekali menjadi lilin. Dan terus-terusan melihat lilin itu. Dan berulang bilang, “Aku sedang belajar cara menjadi lilinn.”

“Lalu?”

“Ya sudah. Begitu saja.”

Ia ingat, hari itu ia bilang, “Suamiku mulai curiga. Lebih baik kita kita pisah sekarang. Jangan menagis. Belajarlah menjadi lilin.” (*)

SUMBER: Sumatera Ekspres, Minggu, 18 September 2011

http://lemabang.files.wordpress.com/2011/08/logo-02.gif?w=630

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.