Undian

Cerpen Iin Yakub

Naik haji sama seperti kematian. Keduanya mutlak kehendak Allah. Sebanyak apapun harta kita jika Allah tak memanggil untuk menginjakkan kaki ke rumah-Nya, tak akan sampai juga langkah kita ke sana. Begitu pula kematian, sekuat apapun kita menghindarinya jika Allah telah memanggil kita, tak ada satu pun yang dapat menghalangi kepergian kita. Tak ada yang harus disesali, Ilham….”

Kalimat lelaki tujuh puluh tahun yang baru dikenal Ilham itu kembali terngiang ditelinganya. Tak seperti imajinasi. Suara itu benar-benar nyata. Menggema setiap kali penyesalan yang sama menghantam dadanya.

______________________________________________________________________

Lobi bank syariah itu ramai oleh para nasabah. Tiga baris kursi yang berada di sisi kanan pintu masuk penuh oleh para nasabah yang ingin menyetor atau mengambil uang. Mereka menunggu monitor 21 inci yang tergantung di atas meja teller memanggil nomor antrean. Beberapa nasabah lainnya duduk di tiga baris di sebelah kiri pintu masuk. Kursi-kursi itu disediakan untuk para nasabah yang ingin berhubungan dengan customer service. Mereka juga menunggu monitor yang terdapat di depan meja customer service itu menyebutkan nomor urut antrean mereka. Pernak-pernik ucapan Ramadhan menghiasi ruangan yang dingin oleh AC.

Ilham memperhatikan baik-baik sang pengunjung baru dengan sebuah tas hitam terselempang di bahunya. Lelaki itu berjalan tertatih. Tampaknya usia telah merenggut kegagahan dan kelincahan kakinya. Beberapa tambalan dan jahitan yang tak rapi menghiasi punggung kemejanya yang telah tipis dan kusam.

“Permisi nak,” sapa lelaki itu dengan santun sambil membungkukkan badannya.

Ilham gelagapan mendengar sapaan itu. Terkejut karena lelaki yang dimata-matainya dengan seksama itu tiba-tiba menyapanya atau mungkin lelaki itu tahu bahwa Ilham telah mengulitinya sejak tadi dengan ekor matanya.

“Bisa bapak minta tolong?” lanjut lelaki itu lagi.

Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Ilham hanya mengangguk.

“Pinjam jaketnya, Nak.” sambung lelaki itu.

Ilham mengerutkan dahinya. Heran. Namun, beberapa saat kemudian ia melepas jaket kulit yang dipakainya dan mengulurkan jaket itu kepada lelaki yang bahunya mulai membungkuk dan berdiri di hadapannya.

Lelaki itu menyambut jaket yang diulurkan padanya lalu membentangkan jaket itu di pangkuan Ilham. Keheranan Ilham makin menjadi, tetapi ia diam saja. Ia menyingkirkan ransel dari pangkuannya agar jaket itu dapat terbentang tanpa gangguan apa pun. Lelaki yang rambutnya hampir sempurna memutih itu melepaskan tas yang melingkar dilehernya lalu menumpahkan semua isinya ke pangkuan Ilham.

“Masya Allah….” gumam Ilham pelan. Ia terpana melihat recehan yang bentangan jaket itu danterasa berat di pangkuannya.

“Bantu bapak menghitungnya ya….” pinta lelaki itu dengan suara yang tetap santun.

Lagi-lagi Ilham hanya mampu menganggukkan kepalanya. Ia ingin bertanya sesuatu, tetapi ada yang terasa mengganjal tenggorokannya. Kepingan recehan itu menyita konsentrasinya.

Ilham telah mengabadikan beberapa foto tentang lelaki tua bernama Harun saat ia Men-service sepatu milik petugas yang berseragam coklat kusam tadi. Ia terus memerhatikan Pak Harun baik-baik hingga telepon gengganmnya bergetar dan menampilkan sebuah pesan yang membuatnya harus meninggalkan pelataran toko tempatnya berdiri sejak beberapa menit lalu.

______________________________________________________________________

“Tapi itu penipuan, Ham! Pembohongan publik! Melanggar kode etik!” suara Bang Anton meninggi saat memimpin rapat redaksi.

“Tapi itu demi kemanusiaan, Bang. Tak dapatkah kita sedikit saja membantunya.”

“Ya, tapi tidak dengan cara seperti ini,” jawab lelaki itu.

Ilham tertunduk. Ia pikir idenya untuk meminta staf redaksi merekayasa pemenang undian haji yang dilaksanakan oleh harian itu adalah ide yang cemerlang yang dapat membantu Pak Harun untuk segera mewujudkan impiannya. Namun, ide cerdas itu malah dianggap sebagai kebohongan publik.

“Aku…” Ilham ragu, “hanya ingin membantunya.”

“Tapi tidak dengan cara seperti idemu itu,” tegas Bang Anton.

“Menurutku ini lebih manusiawi, memberikan hadiah itu pada orang yang memang berhak dan layak. Ingat Bang, orang miskin tidak ada yang mampu membeli koran setiap hari untuk mengumpulkan kupon-kupon undian itu! Atau… kita ingin membiarkan uang puluhan juta ongkos naik haji itu terbuang percuma karena nanti dimenangkan oleh orang yang mungkin dapat melaksanakan haji dengan jentikan jarinya saja,” suara Ilham meninggi.

“Kau pikir pesulap, naik haji dengan menjentikan jari! Siapa pun yang nanti memenangkan undian itu tentu dia adalah orang yang dipilih Allah dan diundang-Nya untuk menginjakkan kaki ke Baitullah,” bela Bang Anton

“Tapi kali ini aku menemukan orang yang benar-benar berhak dan layak menerima hadiah itu!”

“Tapi tidak dengan kebohongan seperti rencanamu itu. Sudah terlalu banyak pembohong di negeri ini, kuharap kau tak ikut menjadi salah satu dari mereka!” sindir Bang Anton.

“Aku bukan pembohong! Aku hanya ingin membantunya, TITIK!!”

Tiba-tiba Ilham teringat lelaki yang ditemuinya di bank beberapa hari lalu. Seandainya ada yang membantu Pak Harun untuk mencukupkan biaya hajinya gumam ilham dalam hati sambil memainkan tepung terigu yang tercecer di dekatnya dengan jemarinya. Ia membentuk pola-pola abstrak di atas tebaran terigu di lantai. Terigu puluhan kilogram itu akan dibagikan dalam acara bakti sosial besok.

Istianah tak tega melihat wajah kusut Ilham. Sahabat karibnya sejak SMA itu jarang sekali terlihat murung apalagi berputus asa. Kemurungan itu bukan tanpa alasan. Pak Harun yang tak sengaja dikenal Ilham itu benar-benar telah mengusik pikiran pemuda itu. Di tengah keputusasaan itu ia harus pula mendengar cerita rencana ayahnya melaksanakan umrah untuk kesekian kalinya.

Istianah beranjak dari duduknya. Mengambil sebuah kantong plastik hitam dan segera memuatinya dengan 2 Kg terigu, 2 liter minyak sayur, 2 Kg gula, sekotak kurma, dan dua paket pakaian lebaran.

“Masih memikirkan Pak Harun?”

Ilham mengukir senyum kecut di wajahnya. Ia mengangguk pellan sambil menarik nafas dalam dan menghempaskannya seketika.

“Ambil ini,” ujarnya sambil menyodorkan paket bakti soaial itu, “untuk Pak Harunmu itu,” sambungnya lagi.

Senyum Ilham semakin kecut menerima paket sembako itu tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Istianah tak kehabisan ide untuk menghibur sahabat karibnya itu.

“Kita ikuti saja undiannya, Ham. Kita atas namakan Pak Harun. Kita kirim banyak-banyak kuponnya, siapa tahu menang. Kan, semakin banyak kita mengirim kuponnya, peluang menangnya pun semakin besar? betul kan? Di rumah sama di kantorku berlangganan koranmu, biar nanti aku gunting semua kupon undian hajinya. Gimana?”

Tiga nama pemenang yang mendapatkan hadiah umrah telah diumumkan, Ilham dan Istianah membisikkan do;a agar Allah mendengar harapan mereka. Seorang tamu kehormatan dipersilahkan mengaduk kupon yang terhampar di lantai dan mengambil satu kupon secara acak sebagai pemenang utama. Setelah perwakilan pihak kepolisian dan notaris mengecek dan menyatakan sah pada kupon yang terpilih, panitia mengumumkan nama pemenang yang berhak melaksanakan ibadah haji gratis dari koran itu.

“BADARUDDIN MAT TJIK!” ujar MC lantang.

Istianah ternganga… Ilham tertunduk kecewa.

“A… Ayah???” ujarnya tak percaya sambil menggelengkan kepala.

Istianah memejamkan matanya karena berharap apa yang didengarnya hanyalah halusinasi dan setelah matanya terbuka nanti ia dapat mendengar satu nama lain yang mengisi do’a-do’a panjangnya bersama Ilham. Namun, saat nama itu disebutkan sekali lagi diiringi tepuk tangan meriah, tak ada yang perubahan sama sekali. Ayahnyalah yang menjadi pemenang. Haji Mat Tjik. Seorang tauke karet yang telah empat kali pergi haji.

Ia menatap Ilham mencari kebenaran atas apa yang baru saja didengarnya. Namun, pemuda itu melangkah perlahan meniggalkannya. Istianah merasakan matanya memanas dan siap melebur kekecewaannya.

“Ayah???” ulangnya lagi.

Air matanya runtuh. Jadi inilah jawaban atas hilangnya kupon dari koran di rumahnya selama beberapa hari lalu. Ayah? Ayahnya juga memperebutkan undian naik haji itu???

______________________________________________________________________

Sejak pengundian kupon berhadiah itu. Ilham tak pernah lagi menghubungi Istianah. Entahlah, ia merasakan kekecewaan yang akut. Pak Harun dan istrinya yang biasa berjualan di bawah jembatan di depan Masjid Agung pun tak lagi ditemuinya. Entah kemana suami istri itu. Setelah hampir dua minggu mengintai dan bertanya kepada orang-orang di sekitar pertokoan itu, baru diketahuinya bahwa Pak Harun dirawat di rumah sakit. Ia mengetahui kabar itu lagi-lagi dari petugas Pol-PP yang sering dihujatnya.

Ilham mendapati lelaki itu tergolek lemah di tempat tidur bangsal kelas tiga. Bangsal khusus bagi pengguna kartu berobat gratis. Istrinya melantunkan Surah Al-Ahzab di tepi telinganya. Ilham makin tak tega melihat pemandangan itu. Suara Mak Leha terdengar letih.

“Maafkan Ilham, Pak. Ilham gagal memenangkan undian pergi haji itu.”

Suaranya berat penuh penyesalan.

Tak ada suara. Mak Leha terisak.

“Nanti Ilham akan carikan jalan untuk Bapak dan Emak agar bisa segera berkunjung ke Baitullah…”

Seyap

“Bapak cakep Mak, pakai baju itu,” ujar Ilham untuk mengalihkan pembicaraan.

Mak Leha menyusut air mata. Wanita itu berusaha tegar.

“Bapak minta dipakeke baju itu, Ham. Ujinyo dag usah nunggu lebaran makenyo. Pas pulo kau datang ari ni, jadi biso jingok Bapak make baju itu,” suara Mak Leha parau dan tercekat di pangkal lehernya.

Ilham mengangguk, tetapi tetap membisu.

Tiba-tiba ilham merasakan lelaki itu meremas tangannya, ia membuka mata perlaham, menatap Ilham, dan mengukir sebuah senyuman untuknya. Pemuda itu membalas senyum tulus dari lalaki yang makin renta itu yang tergolek di hadapannya. Bukan hanya usia yang menyedot semangat hidupnya, melainkan juga penyakit yang menggerogoti paru-parunya.

“Pak, maafkan Ilham. Undian itu tak berhasil Ilham menangkan.”

Pak Harun menggeleng, “Naik haji sama seperti kematian, Ham. Keduanya mutlak kehendak Allah. Sebanyak apa pun harta kita jika Allah tak memanggil kita untuk menginjakkan kaki ke rumah-Nya, tak akan sampai juga langkah kita ke sana. Begitu pula kematian, sekuat apa pun kita menghindarinya jika Allah telah memanggil kita, tak ada satu pun yang dapat menghalangi kepergian kita. Tak ada yang harus disesali, Ilham….” ujarnya lemah.

Ilham mengangguk, “Iya Pak, Ilham mengerti,” jawabnya pendek.

Ilham merapikan kacamatanya sambil menarik napas panjang. Ada sesak yang menghimpitnya. Ada sesuatu yang hendak tumpah dari matanya saat mendengar kalimat itu.

“Tapi…”

Ilham tak sempat melanjutkan kata-katanya saat melihat genggaman tangan di lengannya itu perlahan melemah. Ilham kembali beralih pada tangan yang masih berusaha menggenggam lengan Ilham.

Tangis wanita disampingnya pecah tertahan. Ilham geram menggenggam jemarinya. “Allah, Kau undang dia langsung menemui-Mu, meskipun dia begitu ingin berkunjung ke rumah-Mu terlebih dahulu? Begitu cinta-Nya kah Kau padanya? sehingga tak menunggu sampai ia menyelesaikan Ramadhan ini?” Ilham merapatkan gerahamnya.

Telepon genggam di kantong Ilham berdering.

“Ham, dapat, Ham… Pak Harun berhasil jadi pemenang undian umrah di kantorku. Aku mengirimkan nama beliau diam-diam…”

Suara Istianah terdengar bahagia di ujung telpon.

Ilham diam. Mutiara bening merayap perlahan menyusuri pori-pori wajahnya. * * *

Sumber:
Parade Cerpen Ramadhan
Sumatera Ekspres, Minggu, 21 Agustus 2011.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.