Lelaki yang Matanya Tertusuk Duri.
14 August 2011 Leave a comment
Cerpen Yadhi Rusmiadi Jashar
Pak Nga, laki-laki setengah baya yang matanya tertusuk duri, duduk terserandai di pance pinggir sungai, menyimak aliran Sungai Ogan yang meliuk-liuk mengalir membuluh darah. Aliran sungai telah mengacaukan pikirannya. Setengah abad umur lelaki yang bersorot mata tajam dan tegas itu. Tetapi ia tetap berkubang dalam kebujangan. Bujang bedengkang.
Anak-anak pengajian sangat segan dengan Pak Nga. Ketegasannya dalam mengajarkan a-ba-ta-sa membuat para orang tua sangat mempercayakan pendidikan agama pada lelaki sebatang kara yang separuh hidupnya telah tertanam di Masjid Al Muhajirin. Satu-satunya masjid di kampungnya.
Saat pulang kampung setelah menamatkan studi di pesantren Al Ithifaqiah Ogan Ilir, banjir bandang menyapu desanya. Keluarganya hanyut disapu banjir. Pak Nga beruntung. Masjid dan beberapa rumah penduduk lain tidak terjangkau air bah. Selamatlah Pak Nga, karena saat itu ia sedang menunaikan shalat Isya’ berjemaah di masjid. Sejak itulah ia menempati Masjid Al Muhajirin sekaligus menghidupkannya. Bekal mengaji dipesantren menjadi modal berharga bagi dirinya untuk menyuburkan masjid.
Meski hidupnya lebih banyak dibantu penduduk sekitar, lelaki yang matanya tertusuk duri itu tidak mau berpangku tangan. Pagi saat ikan palau bermain di permukaan Sungai Ogan. Pak Nga selalu mengibaskan jalanya untuk menangkap ikan. Selain ikan palau, kepor, mujair, dan seluang, tak jarang udang pun masuk ke dalam sangginya. Lumayan. Harga udang terbilang mahal.
Kini, setengah abad sudah usia merambatinya, tetapi Pak Nga belum juga terpikir untuk menikah. Selain keadaannya yang serba tak ada, Duri yang menusuk matanya kini semakin pakam memaku hatinya. “Aku berjodoh dengan Duri,” ujarnya lugas saat kawan sepance menabik tanya tentang hal itu.
“Tidak mungkin Pak Nga,” simbat temannya. “Bisakah Pak Nga mencabut duri dari hati? Biarkan duri jauh dari bayang-bayang Pak Nga.”
“Bukankah Duri masih terbilang keluarga?”
“Biarkan dia mencari pasangan hidup sesuai dengan keinginannya.”
Pikiran Pak Nga secepat kilat kembali ke masa lalu. Pak Nga senang sekali memperhatikan anak mangsaknya itu. Gadis keriangan kanak-kanaknya selalu membuat hati Pak Nga gembira. “Kalu Duri besak kele, Ngan jadi biniku, ye, gadis cinde,” goda Pak Nga.
Duri biasanya menjulurkan lidah “weeeek” lalu dengan berlari-lari kecil, gadis kelas dua madrasah ibtidaiyah itu kembali ke rumahnya.
“Umak, kate kak Nga, amun besak kele aku nak dijadikannye bini,” ujar Duri ngadu lugu. Umak hanya tersenyum. Sebab ia tahu, Pak nga hanya berolok-olok. Lagi pula tak secuilpun pikiran negatif terlintas pada bujang pesantren yang keningnya menghitam itu. Ibunya bahkan sangat setuju anaknya menjadi istri Pak Nga jika umur mereka tidak terlampau jauh. Sampai khatam Al-Qur’an, Duri belajar mengaji dengan Pak Nga. Tapi mereka terpaut umur 21 tahun! sejak itu Pak Nga matanya selalu tertusuk Duri. mungkin itu pulalah alasan yang menyebabkan Pak Nga tetap bertahan dalam kebujangannya.
Sore merambat naik saat sebuah Avanza sanggat di depan masjid. Seorang gadis kota bermuka pualam dengan jilbab lebar putih yang menyelubunginya turun dengan anggun. Gadis yang tak lagi muda. 30 tahun usianya. Dia menuju ruang perpustakaan masjid yang juga merupakan tempat tinggal Pak Nga.
“Assalamu’alaikum, Kang Nga,”
Suara lembut cukup mengagetkan Pak Nga yang baru saja membereskan Iqro’ dan Al-Qur’an yang ditinggalkan murid-muridnya ngaji tadi.
“Wa’alaikum salam.”
Tak salah lagi.
Duri itu kini di depan matanya. Pak Nga menyudahi pekerjaannya.
Duri lalu duduk di kursi yang ada di luar perpustakaan masjid. Sementara Pak Nga, duduk di balik pintu dalam ruang perpustakaan.
“Kang, jangan rendahkan aku jika berkata lancang. Dunia ini sudah gila. Orang sibuk mengejar dunia dan abai pada akhirat. Di kantorku, rekan-rekan sangat tidak menghargai kumandang adzan. Sibuk dengan dunianya masing-masing. Aku tak ingin terjebak dalam kegilaan ini, Kang. Dunia yang membuatku runsing. Itu pula yang menyebabkanku menolak pinangan setiap lelaki yang melamar. Aku takut semakin tenggelam dalam kegilaan dunia. Aku butuh seseorang yang bisa tetap meluruskan langkahku. Istikharah telah kulakukan berkali-kali dan hanya nama Kang Nga yang selalu terlintas.”
Pak Nga terkejut. Tapi dia cepat menyadari kegugupannya.
“Apa ini namanya modernisasi? Perempuan begitu gamblang mengutarakan isi hatinya?” ujaran itu hanya ditelan Pak Nga dalam hati.
Pak Nga hanya diam.
“Saat kecilku dulu, Kang Nga selalu mengolok-olok aku. Sekarang aku yang meminta Kang Nga untuk melamarku. Mengangguklah Kang, supaya aku dapat mengabarkan pada kerabat.”
Pak Nga hanya diam. Tak bisa berkata sepatah pun. Duri yang selalu menusuk mata dan hatinya kini bergetar suaranya. Duri menunggu jawaban Pak Nga. “Duri, kita dijodohkan alam. Dari kecil aku mengenalmu. Mengaji pun aku yang membimbingmu. Aku mencintaimu.” Sesaat Pak Nga terdiam. Kata-kata seakan tersekat di tenggorokannya.
“Kalau begitu, Ayo, Kang. Mari kita bersama mengabarkan berita ini pada kerabat. Aku tunggu di rumah, ya, Kang.” Duri hendak beranjak pergi.
“tunggu Duri, aku mencintaimu, sama seperti aku mencintai munting, bibik-bibikmu, dan seluruh muslimah di muka bumi ini. Aku ingin meminang mereka semua agar aku dapat pastikan mereka berjalan lurus di rel-Nya.
“Lalu?”
“Duri, di sisa usiaku, cukuplah bagiku cinta Allah. Menjadi kekasih-Nya, mengurus rumahnya.”
“Maafkan Kakang, Duri, Kakang yakin di luar sana masih banyak laki-laki yang mencintaimu kerena kecintaan mereka pada Allah. Kakang yakin itu. Duri, kakang mencintaimu sebagai anak mangsak dan muntingku. Kerabatku. Walau kita sah menikah. Tapi cinta kakang telah berurat berakar di sini. Di rumah Allah ini. Maafkan kakang, Duri,”
Tak sadar dua bola mata Pak Nga yang biasa tegas tiba-tiba lindap. Ia baru saja membuat keputusan besar dalam hidupnya. Ia ingin segera menyungkurkan keningnya untuk mohon ampunan Allah. Banyak yang dipikirkan Pak Nga. Kini duri tak lagi menusuk matanya. Sementara Duri tatapanya redup, entah apa yang dipikirkannya. Rembang petang pun jatuh di pangkuan Duri. (*)
SUMBER: Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 14 Agustus 2011.









Recent Comments