Hilangnya Imam Masjid.
7 August 2011 1 Comment
Cerpen Suharno
Daun-daun kering melapis rumput. Kecoklatan berkilau diseling warna jingga beterbangan, bayang matahari senja yang memantul dari balik berbukitan. Angin awal musim bertiup menggigilkan, mempermainkan daun-daun sisa musim kemarau dan menderaikan bulu-bulu burung berwarna kuning kecoklatan yang sedang meloncat-loncat dari satu ranting ke ranting yang lain. Senja mulai perlahan tenggelam, tetapi cahaya kemerahan masih tampak terlihat menembus dinding masjid kami yang terbuat dari kayu seadanya. Pohon-pohon di sekitar masjid seolah menjadi payung peneduh bagi kami yang selalu bermain di bawah rindangnya. Setiap sore keceriaan kami akan tergambar dalam bingkai senja sebelum belajar mengaji dan shalat Maghrib berjemaah bersama Haji Muda.
Aku bocah laki-laki yang telah ditinggal Bapak saat usiaku berusia 4 tahun. Sosok Haji Muda membuatku merasa mempunyai Bapak. Setelah pulang sekolah, sorenya aku dan teman-teman menghabiskan waktu bermain di sekitar masjid sampai waktunya kami belajar mengaji. Haji Muda tak pernah merasa terganggu dengan keriuhan kami, mungkin karena ia hidup sebatang kara. Tak ada yang tau pasti kisah hidup Haji Muda, tetapi yang pernah kudengar dari Ibu. Waktu muda, Haji Muda ditinggal oleh istrinya ke kota dan anak satu-satunya dibawa oleh istrinya. Sampai sekarang tidak tidak tau bagaimana nasib istri dan anaknya. Hidup sebagai guru ngaji tidak membuat bahagia sang istri.
Usianya telah dimakan senja, tetapi semangat ibadahnya tidak pernah surut. Ibuku pernah mengatakan bahwa Haji Muda menjadi pengurus masjid sudah sangat lama bahkan pertama kali masjid itu berdiri tahun 1971. Turun temurun saudara-saudaraku belajar mengaji pada beliau.
Masjid kami berdiri karena kedermawanan seorang mantan lurah. Masjid yang berdiri di lereng bukit pinggiran desa ini memberikan pencerahan bagi penduduk. Konon kata Ibu banyak sekali penjahat yang kabur dan berlindung di desa ini. Sehingga tempat-tempat perjudian dan tempat maksiat tumbuh dengan subur. Untunglah seorang lurah peka terhadap keadaan ini, setelah pensiun ia membeli tanah di kampung kami kemudian mewakafkan tanah itu untuk dibangun masjid. Warga menunjuk Haji Muda sebagai ketua pembangunan masjid karena ilmu agamanya, ketauladanan, dan sikap jujur.
Haji Soleh sangat ramah, murah senyum dan suka membantu warga yang memerlukan bantuan. Ia tak segan-segan menolong walau dalam keadaan apapun. Anak-anak, tua, muda, laki-laki dan perempuan yang mengalami sakit, sering meminta pertolongan supaya mendapat kesembuhan, maka Haji Muda juga disebut tabib oleh warga kampung. Jika ada konflik antarwarga, akan selesai secara damai kalau Haji Muda menjadi penengah. Bahkan, kami merasakan Haji Muda bukan sekedar guru mengaji, tetapi sebagai orang tua. Yaidan kakek bagi kami. Para orang tua juga sering meminta nasehat dan do’a agar anaknya menjadi anak yang shaleh dan berbakti.
“Anak-anak…. Adzan yang kalian kumandangkan setiap Maghrib di masjid ini, semoga membawa ketentraman bagi orang tua dan penyelamat mereka kelak,” sambil tersenyum Haji Muda sambil menguap-usap kepalaku. Itulah kata terakhir Haji Muda kepada kami.
Semenjak Haji Muda di panggil Allah, mendadak masjid kami menjadi sepi seolah keceriaan kami setiap sore hilang tersapu angin. Banyak yang merasa kehilangan. Terutama kami yang belajar mengaji kepada Haji Muda.
______________________________________________________________________
Kami telah duduk berjejer rapi di masjid menunggu waktu Maghrib. Siapa yang datang lebih awal maka dialah yang berhak mengumandangkan adzan. Ini sudah tradisi kami. Semasa hidupnya Haji Muda sangat sangat senang kalau melihat anak-anak yang berani mengumandangkan adzan. Ia akan selalu memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menjadi muazim masid Setiap sore radio disetel dari masjid. Ini memberikan tanda bahwa waktu adzan telah tiba. Dari corong pengeras suara di atas gubah masjid akan menggema suara adzan yang kami kumandangkan.
Duk…. duk…. duk….! terdengar bedug adzan memecah senja. Temanku dengan wajah sumringah langsung menyerobot mig dan langsung mengumandangkan adzan. “Allahuakbar….” adzan berkumandang. Kami menyimak dengan baik adzan yang dikumandangkan. Haji Muda selalu memberikan pujian dan nasihat terhadap adzan yang kami kumandangkan belum enak didengar sehingga kami selalu belajar mengumandangkan adzan di rumah ataupun di masjid dengan diam-diam agar kami mendapat pujian dari Haji Muda.
“Kalau mau adzan belajar dulu. Lafalmu itu belum jelas,” kata-kata itu meluncur deras dari mulut Imam Badrun. Temanku tertunduk malu mukanya pucat dan hanya diam. Kami yang mendengar ucapan darinya menciut dan takut untuk mengumandangkan adzan lagi di masjid.
Sepeninggalan Haji Muda, imam masjid dipegang oleh salah satu muridnya, Imam Badrun. Dia memang warga lama di kampung kami sekaligus murid Haji Muda. Pekerjaan yang sangat melekat di mata kami sebelum ia menjadi murid Haji Muda. Dia adalah seorang tentara gadungan, kepalanya botak seperti profesor. Ketika dia mengenakan seragam dinas tentara, ia seperti pejabat perwira menengah. perutnya buncit dan warna kulitnya gelap. Perangainya sangat temperamental, emosionalnya tinggi. Kalau dia sudah marah, tak ada yang mau meladeninya. Bukan karena orang takut, melainkan karena orang menghormatinya sebagai murid Haji Muda yang pandai menghafal doa-doa yang sangat panjang. Pekerjaan di masa lalunya itu ia tinggalkan karena salah satu teman sekomplotannya masuk penjara karena memeras sebuah perusahaan. Ia tidak ditangkap karena temannya tidak membuka mulut atas kejahatannya. Haji Muda-lah yang memberikan sentuhan agama pada diri Badrun sehingga dia mulai aktif belajar agama dan mengikuti setiap kegiatan agama di kampung kami.
Semenjak Imam Badrun menjadi imam masjid. Rasa malas mulai timbul karena suasana yang sangat berbeda. Namun kami selalu ingat petuah Haji Muda, “Takutlah hanya kepada Allah dan beribadahlah hanya semata-mata mengharapkan ridha-Nya, bukan alasan karena seseorang.” Inilah yang membuat kami masih bertahan dan harus tetap menghormati Imam Badrun di tengah gejolak jiwa kami terhadap Imam Badrun.
Sepeninggalan Haji Muda, Imam Badrun menjadi sosok yang disegani dan dihormati. Setiap keputusan yang menyagkut masjid dan keagamaan, selalu diputuskan atas pandangan Imam Badrun. Kelakuan Imam Badrun sedikit agak berseberangan dengan predikat imam masjid yang disandangnya. Kadang ia suka bergadang bersama warga menghabiskan malam sambil bermain gaplek, merokok di dalam masjid, bahkan ia sering di masjid memakai celana pendek dan tidak memakai baju untuk sekedar duduk bersantai mencari angin segar bersama warga.
“Saudara-saudara, masjid kita sudah tidak layak lagi untuk dijadikan tempat ibadah, maka dari itu saya meakili pengurus masjid telah mencari dana agar masjid kita ini direnovasi menjadi lebih baik lagi. Alhamdulillah! beberapa pimpinan partai politik telah memberikan bantuan dana maupun materil untuk renovasi masjid kita ini, Insya Allah minggu depan kita akan kita mulai pembangunan masjid kita ini,” Dengan lantang Imam Badrun menyerukan gagasannya setelah shalat Maghrib berjemaah di masjid. Riuh tepuk tangan jemaah masjid mengiringi gagasan Iman Badrun. Semua warga menyambut baik renovasi masjid dan rela membantu secara sukarela untuk terlaksananya pembangunan renovasi masjid.
“Saudara-saudara, masjid kita ini akan kita ubah dengan beton semuanya agar terlihat menjadi lebih istimewa dan kita lebih khusyuk dalam beribadah, maka dari itu saya mengimbau agar warga di kampung ini untuk memberikan bantuan dan dukungan agar rumah Tuhan ini menjadi lebih istimewa lagi.” Warga sangat senang dan bangga dengan usaha Imam Badrun yang akan merenovasi masjid.
_______________________________________________________________________
Hujan sangat lebat, hingga senja belum juga redah. Selain angin yang bertiup terasa aneh, udara kecut, dan kesepian yang membungkam, petir dan kilat menyambar saling bersahut-sahutan, aku bergegas memeluk berlindung dalam dekapan Ibu.
“Sore ini kamu tidak usah ke masjid Le, masih hujan,” Ibu melarangku. Kuletakkan kembali kain dan kopiahku di atas meja, aku berbaring di tikar di sampng Ibu. Tak lama kemudian selang beberapa waktu Maghrib tiba, tetapi bukan suara adzan yang menggema melainkan suara teriakan warga kampung yang berteriak histeris. Ibu tersentak dan menarikku dan bergegas melihat keadaan di luar dan berlari menuju sumber suara di tengah rintikan hujan.
Sejenak mataku tak bisa tertutup, di perbukitan aku hanya melihat orang-orang berpayyung hitam dan warga yang berkerumun. Wajah mereka muram, menunduk dan gelisah. Sebentar-sebentar mereka mengusap wajah basah seolah-olah sedang mengusap air mata. Sebentar-sebentar mereka berjalan lagi bergegas di antara reruntuhan dan tumpukkan tanah becek bberlumpur. Tak banyak di antara mereka yang bicara selain menikmati udara yang berbau perkabunan.
Mereka adalah orang-orang yang datang mencari tau setelah tanah longsor mengamuk meratakan masjid kami dan beberapa rumah warga. Ada yang mengali-gali reruntuhan mencari-cari sesuatu, mungkin istri atau anak-anaknya. Ada yang menjerit-jerit histeris di depan sebuah gundukan berbentuk kuburan. Ada yang tersenyum-senyum kecil memperhatikan bekas rumah yang sudah hancur. “Imam Badrun, ada di dalam masjid, ayo!!! Cari bantuan agar kita bisa mengeluarkan mayatnya dari timbunan tanah dan reruntuhan masjid,” teriak warga memberi komando. (*)
Penulis adalah guru SMA Sampoerna Academy Sumsel
Sumatera Ekspres, Minggu, 7 Agustus 2011.









izin copy paste…