Berebut Miskin

Cerpen Rifan Nazhif

HAMIDAH dan dua anaknya yang masih balita, tak dapat lagi menghadapi hidup yang sedemikian susah. Semenjak Kirun, suami Hamidah, meninggal karena tertabrak kereta api, praktis kehidupan mereka tak karuan. Apalagi sekarang segalanya serba mahal. Mengenai BLT Hamidah sama sekali asing. Meski rumahnya berlantai tanah, tak dialiri listrik dan nol besar dari dengan yang namanya perangkat elektronik, dia toh tak mendapatkan lebel sebagai orang miskin. Arti miskin disini, berhak atas dana BLT yang digelontor pemerintah.

Sudah pasti wanita perempuan yang satu ini tak memperolehnya. Dia tak mengenal perangkat desa yang bernama RT, Pak Camat, maupun Bupati. Dia tak memiliki keluarga yang terpandang. Sebab dia bersama keluarganya, hanyalah perantau. Seluruh familinya tinggal di Jawa, dengan catatan melarat-melarat juga. Oleh sebab itu tak ada yang berbaik hati memberi kartu miskin.

“Mak, adik lapar!” Anaknya yang berumur dua tahun mengelus busungnya. Dia bukan kenyang. Melainkan busung lapar.

“Mak, abang juga!” Anak sulungnya membalas. Dia meringis memegang perut yang hampir sekeras lutut. Tapi isinya bukan makanan, kecuali angin yang selalu keluar masuk menghasilkan kentut.

Hamidah meringis. Dia melihat tetangganya berbondong-bondong menuju kantor pos. Mereka mau mengantre dana miskin bernama BLT. Mereka berbincang, akan bertemu dengan bapak bupati. Pasti nyamanlah menyalami tangannya yang dingin dan dermawan. Padahal tetangganya rata-rata orang orang berpunya. Seperti Pak Lebai, memiliki lima ekor kambing, kebun ubi jalar, sepeda motor kreditan, juga televisi berwarna.

“Kita makan apa, Mak? Anak sulungnya memelas. Hamidah memutar otak. Akhirnya diputuskan menempuh jalan terakhir, yakni mengambil ubi jalar di kebun Pak Lebai dengan cara mencuri. Prinsip Hamidah, kalau kepepet seperti itu halal saja mencuri. Mereka membutuhkannya demi mengganjal perut yang sejengkal. Bukan untuk memperkaya diri. Maka malam itu, dia mengendap-endap menuju kebun Pak Lebai. Sengaja anak-anaknya ditinggal di rumah. Keduanya telah kekenyangan dengan meminum air mentah bergelas-gelas. Kebetulan suasana desa sepi. Uang hasil BLT, telah membuat warga kelelahan. Bagaimana tidak, banyak di antara mereka langsung berfoya-foya. Membeli ini-itu sambil menyusun mimpi mendapatkan dana BLT berulangkali.

Hamidah melangkahi pagar kebun ubi jalar Pak Lebai yang tak tinggi. Setelah meraba kesana-kemari, dia pun memperoleh rumpun yang ber-ubi besar-besar. Dia menyongkelnya dengan parang. Diambilnya tiga. Satu untuknya, dua untuk anak-anaknya. Mudah-mudahan bisa mengenyangkan perut mereka sampai besok sore. Namun malang tak dapat dielakkan. Ketika berusaha keluar dari kebun itu, sebuah perangkap besi menggigit erat telapakk kaki Hamidah. Dia mengerang kesakitan sehingga mengundang Pak Lebai dan beberapa warga datang, yang langsung mengepung. Terdengar suara bak-buk dan aduh-aduh sebentar. Hamidah dipukuli dengan bambu. Tapi ketika orang-orang menyadari yang mengambil ubi jalar adalah perempuan, sontak semua tangan yang memegang pemukul, berhenti di udara. “Hai, malingnya perempuan,” kata Pak Lebai tertahan. Dia melotot. “Dia Hamidah, istri mendiang Kirun. Oh, pantas, ubiku selalu hilang beberapa hari ini. Aku pikir babi yang mengambilnya. Rupanya babi kepala hitam.”

“Pukul saja sampai mampus,” teriak orang menimpali.

“Biarlah! Bubar saja! Biar aku yang menangani masalah ini,” jawab Pak Lebai mengejutkan orang-orang. Tapi akhirnya mereka meninggalkan Pak lebai dan Hamidah di kebun yang gelap itu. Baik hatikah lelaki ini kepada si perempuan? Ah, tidak! Si Lebai telah menyimpan menyimpan pikiran kotor. Sejak Hamidah satu daerah dengannya, Lebai sudah menyintainya sepenuh mampus. Berhubung Hamidah sudah bersuamikan Kirun, akhirnya dia gigit jari.

Sekarang Hamidah telah mencuri ubi jalar Pak Lebai. Jadi, tak ada salahnya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Biarlah ubi jalar diambil Hamidah. Asal dia mau dijadikan simpan gelap sang Lebai. Tapi Hamidah ogah. Dia langsung membanting ubi jalar curiannya. Kemudian berlari meninggalkan Pak Lebai yang menjerit-jerit marah sambil mengeluarkan kata-kata kotor

______________________________________________________________________

“Mak! Adik lapar berat!”

“Orang-orang tak ada yang mau membantu,” kata si sulung. “Padahal mereka pasti memiliki makanan yang cukup di rumahnya.”

“Biarlah! Mudah-mudahan ada yang bisa membantu kita.” Pandangan Hamidah berkunang-kunang. Pandangan anak-anaknya berbintang-bintang. Ketiganya terjerembab di dekat pembuangan sampah desa. Entah keajaiban apa, tiba-tiba ada seseorang yang bersuara halus membantu mereka duduk. Katanya, “Kalian lapar?”

“Ya, kami lapar sangat. Namun tak ada warga yang mau memberi kami makan. Apakah kau akan menghina dan membiarkan kami tetap lapar?” tanya Hamidah.

Dia tersenyum. Diajaknya Hamidah dan dua anaknya ke suatu tempat. “Aku memiliki banyak makanan untuk kalian.” Benar saja, setelah melewati lorong-lorong gelap dan asing, mereka tiba di sebuah tempat yang dengan timbunan makanan. Seperti di situ tempat berpestapora. Banyak orang yang makan minum dengan lahap. Begitu menyadari Hamidah anak-beranak, seketika mereka menyingkir. Mereka membiarkan para taku terhormat itu menikmati makanan yang berlimpahruah.

Karena sudah lama menahan lapar, Hamidah dan dua anaknya makan dengan amat lahap. Mereka tak perduli lagi dengan suasana sekitar. Pokoknya makan sampai perut kenyang. Hingga mata berkunang dan berbintang. Dan akhirnya mereka merasa akan pingsan kekenyangan. Hamidah tiba-tiba mendengar orang yang bersuara halus tadi, semakin halus suaranya. Badanya mengecil dan menghitam. Mulutnya mengerucut, sama seperti orang seluruh orang-orang di sekitar itu. Ujung-ujungnya, Hamidah hanya mendengar suara mencicit nyaring. Lalu tiga beranak itu tak ingat apa-apa lagi

______________________________________________________________________

Warga desa heboh. Telah ditemukan tiga mayat bergelimpangan di tempat sampah yang dikerubungi tikus-tikus liar. Mayat-mayat itu adalah Hamidah dan dua anaknya. Di mulut mereka ditemukan serpihan-serpihan makanan.

Maka orang-orang saling menyalahkan. Orang-orang saling menuduh, sebab tak ada yang mau membantu orang miskin. Tak ada yang mau membantu orang-orang yang kelaparan. Tapi semuanya hanya dengungan omong kosong. Terbukti akhirnya para warga itu menghilang satu demi satu. Mayat-mayat terbiarkan karena tak ada yang mengurus. Dan para tikus semakin banyak merubung. Mencicit-cicit berpestapora. (*)

Cerpen Rifan Nazhif
Sumatera Ekspres
, Minggu, 19 Juni 2011.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.