Pecundang.

Cerpen Yadhi Rusmiadi Jashar

Aku bukan pecundang!!!” ujarku lantang di suatu rembang petang saat gemawan berarak pulang. “Hehehe, hidupmu selalu dirundung kekalahan, dari detik ke detik dan hari berbulan-bulani tahun, kau tetap saja kalah. Grafik hidupmu terus menurun dari waktu ke waktu, hampir menembus titik nadir. Hah, kau selalu kalah… kalah…. kalah….” ejek Saya. Amarah masih bisa kutahan, sebab kutahu Tuhan sangat sayang padaku.

“Ingat tanahmu yang tergusur yang membuatmu terdampar di belantara hutan kota metropolitan ini? Tanah yang sempat membuat hidupmu sedikit lapang itu kini menjadi pemukiman mati. Itu kekalahan pertamamu. Kau kalah…. kalah…. kalah….” kembali Saya mengejekku.

“Kawan, tanah itu tanah leluhur. Kau tentu tahu, unggang, pemilik pertama tanah itu, mendapat gelar Pahlawan karena pengorbanan nyawanya demi kemerdekaan tanah air ini. Hanya sekedar mengorbankan tanah seupil, untuk kompleks pemakaman pula, masak penuh perhitungan. Lagi pula tanah itu tidak digusur gratis,” jawabku.

“Tapi kini kau tak punya tanah, toh. Tak punya lagi rumah dan ladang sayur yang juga ikut tergusur. Uang ganti ruginya lari kemana, hayo. Dan satu lagi kekalahanmu, istrimu minggat, anakmu tidak tahu sekarang di mana. Saya tidak yakin anakmu turut mantan istrimu. Jangan-jangan sudah dijual orang, jadi babu atau mungkin melacurkan diri. Duh…. duh…. duh…. kalau ternyata benar, berapa banyak sudah kau menabung kekalahan…. kalah…. kalah….” Saya mencecar dengan penuh sindiran.

“Selompret…. Tuhan kau bawa-bawa untuk menutupi kekalahanmu. Makan nih, bau kentut. Kau kalah…. kalah…. kalah…. pecundang!!!!”

“Diam kau. Dalam hidup tak ada kalah atau menang. Semua yang dialami manusia adalah pencerahan. Jangan pula kau anjurkan aku meloncat dari Jembatan Ampera menuju dasar Musi.”

Kalau tanah tak digusur, aku belum tentu bisa mengenal kota metropolitan ini. Aku akan tetap terjebak dalam hiruk-pikuk desa kecil bagai katak dalam tempurung. Kalau istriku tak minggat dan anak-anakku tak lari, aku mungkin tak diajarkan bagaimana rasanya tak bertanggung jawab pada orang lain. Seperti saat di dusun dulu. sekarang aku belajar bertanggung jawab pada diri sendiri. Hal yang dulu kuabaikan karena aku sibuk menanggungjawabi orang lain….”

aku juga menikah karena terpaksa. Eh, maksudnya dipaksa. Ceritanya, aku dijebak dan dipaksa menikahi gadis yang sudah bunting dua bulan. Ceritanya, malam itu aku bertandang ke rumahnya. Biasa, anak muda baru beranjak dewasa. Baru setengah jam ngobrol di ruang tamu, di luar rumah orang sudah ramai. Ada wak kadus juga. Aku lalu di bawa ke rumah wak kadus dan disuruh menandatangani surat perjanjian untuk menikahi gadis yang baru sekali kutemui. Dan aku bak tak dapat berbuat banyak mendapatkan desakan warga hampir separuh dusun. Akhirnya, aku mengawini gadis yang sudah bunting dua bulan! Jadilah dia istriku. Tapi, aku menerimanya dengan besar hati. Lagi pula istriku tidak banyak tingkah, patuh, dan mampu mengambil hati Bak yang mulai sakit-sakitan. Sebelum anak pertamaku lahir, Bak sudah berpulang.

Dalam hidup, satu-satunya kebahagiaan yang tak terkira dan kuanggap sebagai kemenangan adalah saat anak-anakku lahir. Lahir. Tapi, jangan anggap pula kelahiran anak-anakku sebagai kekalahan. Ketiga anakku bernasib sama, tertahan di rumah sakit kabupaten dan keluar bukan keluar dari lubang semestinya. Lahir lewat perut!!!! istriku pendarahan serius. Anakku tertahan karena biaya operasi kurang. Duh…. sampai masuk koran lagi.

“Kenapa merenung,” usik Saya lagi. “Memikirkan segelintir kemenangan yang pernah diraih?”

“Hhhhh”

“Atau, kau ingin merasakan menang dengan mudah?”

“Atau kau ingin melupakan tumpukan kekalahanmu”

“Hahahahahahaha…. hidup jangan terlalu lurus, bung. Bengkok-bengkok sedikit ya tidak apa-apa,” ujar Saya beruntun.

“Ah, tidak. Aku tahu kau takkan punya keberanian untuk melakukan itu. Kau lihat puncak menara jembatan Ampera. Kau akan menemukan kebahagiaan di sana. Panjatlah kawan. Tuhan menunggumu di sana. Dia akan janjikan sebuah rumah dan istri yang cantik. Buatlah kontrak dengannya. Ya, di sana di ujung telunjuk Saya.”

Ah,lebih baik ke Sungai Musi. Aku hanya tinggal menunggu momen yang pas untuk terjun.

“Haaaah, tidak kawan. Aku bukan orang bodoh yang tidak punya iman. Sudah kubilang, jangan selalu kau anjurkan aku memanjat menara jembatan Ampera.” Aku mengeluh panjang.

“Tolol…. dasar pecundang!!!”

“Cukup…. jangan kau sebut lagi aku pecundang. Nanti kubunuh kau,” amarahku yang sudah mendingin kini kembali membara.

“Hahahahaha…. pecundang sepertimu mana pernah punya keberanian membunuh.”

Jangan buat aku berbuat kasar. Aku sudah muak padamu.”

“Selagi kau tak mau menjadi pemenang dalam kehidupan, sekaliiii saja, Saya akan tetap menyebutmu pecundang…. orang kalah…. kalah…. kalah,” kembali Saya menyindir sambil tertawa parau.

aku sudah tak tahan, amarahku sudah tak dapat kukendalikan. Aku masuk ke petak kost, mengambil sebilah pisau lalu kembali keluar. Petang mulai meremang. Sepi.

“Huahahahaha…. pisau dapur tumpul!!! Kau takkan berani membunuhku. Tak berani!!!! Pecundang.”

“Cukup…. cukup. Aku bukan pecundang. Hah, di mana kau. Hayo, jangan bersembunyi. Kau belum tahu betapa tajamnya pisau dapur yang kau anggap tumpul ini,” Aku benar-benar kalap.

“Hahahahahaha…. Saya tidak bersembunyi, pecundang. Saya di lehermu. Eiiitt…., tidak. Sekarang Saya ada dipergelangan tanganmu….”

Belum selesai Saya berujar, tiba-tiba, “Hhiiiih….” Bresssss…. dengan kekuatan penuh, pisauku mencari Saya. Darah segar pun mengalir dari pergelangan tanganku. Gelap.***

Sumatera Ekspres, Minggu, 12 Juni 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.